Senin, 24 Oktober 2011

Bungong Seulanga..

Malam ini aroma kamarku berbeda, tidak seperti malam-malam lainnya. ada aroma bunga seulanga yang merupakan bunga khas aceh yang juga sering di lambangkan seperti perempuan aceh, padahal tidak ada korelasi antara bunga seulanga dan perempuan. Harumnya sangat khas, merebak ke seantero kamarku, sengaja tadi sore aku petik 3 tangkai di halaman depan rumah, aku pilih yang sudah mulai menguning warnanya, karena biasanya akan menebarkan harum khas..

Bungong seulanga atau bunga kenanga  Cananga odorata / Canangium odoratum di Aceh begitu populer, entah bagaimana asal muasal ceritanya sehingga di Aceh bungong yang terkenal dengan keharumannya ini menjadi bunga favorit rakyat Aceh, flora satu ini bahkan menjadi identitas Aceh. Bahkan seniman kondang Aceh pernah menggetarkan dunia musik Aceh dengan lagu seulangannya. Orang Aceh pasti sudah pernah mendengar lagunya yang mengkisahkan bungong seulanga sebagai seorang dara yang beranjak dewasa.

Bungong seulanga dibelahan dunia Eropa dijadikan bahan dasar untuk produk parfum dan terbukti laku keras dan termasuk parfum ekslusif. Bunga kenanga termasuk tumbuhan yang dapat tumbuh cepat hingga 5 meter pertahun. Pertumbuhannya tidak perlu perawatan khusus tetapi pertumbuhanya lebih bagus pada tanah yang memiliki kandungan asam. Daunnya panjang, halus dan berkilau. Bunganya hijau kekuningan (ada juga yang bersemu dadu, tetapi jarang), menggelung seperti bentuk bintang laut, dan mengandung minyak biang yang wangi. pasa saat sekarang tumbuhan seulangan banyak didapati di rumah-rumah dalam pot, tetapi sudah mengalami vegetatif sehingga batangnya tidak menjadi besar. Paling tinggi hanya mencapai 45 – 60 cm dengan cabang yang banyak. kelemahannya tumbuhan seulanga yang sudah dibonsai tidak kokoh dan mudah mati jika tidak mendapat perawatan khusus. (sumber komunitas I love Aceh).

Aku ingat semasa kecilku dulu, nenek sangat suka menyelipkan bunga selanga di rambutku yang di kepang dua, atau beliau juga sangat suka menyelipkan bungong seulanga di sanggulnya, harumnya itu memberikan aroma yang berbeda. dan seingatku dulu pengantin perempuan dan para penari aceh juga menggunakan bungong seulanga sebagai salah satu aksesoris untuk memperindah mahkota di kepalanya, tapi sekarang sudah jarang terlihat pengantin yang menggunakan bungong seulanga, mungkin karena susah mencarinya. Tapi bungong seulanga yang ada di depan rumahku selalu saja berbunga, banyak orang sekitar yang suka meminta setangkai atau 2 tangkai, seingatku pohon bungong seulanga itu sudah ada sejak aku kecil, disamping pohon bunga seulanga ada juga pohon melati..hmmm.. coba di padukan kedua aromanya pasti berasa beda, hehe..kadang itu aku lakukan, tapi malam ini aku cuma pengen membaui bungong seulanga selayaknya aroma therapi.

aku menuliskan note ini di temani lagu bungong seulanga

Bungong seulanga..seulanga keumang cot uroe...
Haroum bee bungong oh ado cukop that muesra...
Didalam cintra seulanga malam ngen uroe eu sayang...
Dua geutanyo seulanga tak meuduk dua....

ya..aaaa seulanga bungong seulanga....
ya..aaaa seulanga bungong seulanga....

Udep beusare seulanga mate beusigo...
Dua geutanyo hai ado beu meubahgia...
Mudah raseuki Tuhan bri..malam ngen uroe o sayang..
Raseuki tanyo beu e'k seujahtera....

Cukop that haroum seulanga di Naggroe Aceh...
Bungong teulebeh seulanga indah that rupa...
Bah pih lam ranto dilon nyoe lon wo u aceh oh sayang...
Beu ek teujabe Seulanga haba teuh  dua

Lirik diatas menggambarkan keindahan akan bungong seulanga, meskipun di rantau keharuman seulanga tetap di ingat dan ingin segera pulang ke Nanggroe Aceh.

Menurut cerita para tetua ada filosofi dari bungong seulanga itu, tapi aku belum menemukan cerita mengenai itu, meskipun sudah pernah mendengarkan ceritanya. setelah aku tahu akan cerita aku janji inshaAllah akan menuliskannya kembali.

ah malam ini cerah sekali dengan aroma bungong seulanga, somehow berasa Aneuk Nanggroe banget.. Inong Aceh..hehe and I proud to be Achenist ;)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar